Rabu, 23 Desember 2009

Kota Cape Town yang indah terletak di semenanjung ujung selatan benua Afrika. Di sana, ada sebuah gunung setinggi 1.086 meter yang yang dinamai Table Mountain, karena bentuk plateau-nya datar seperti meja, dilengkapi dengan taplaknya dari awan putih, yang menjadi latar spektakuler. Di lerengnya, terdapat University of Cape Town tempat Dr. Christian Barnaard melakukan operasi cangkok jantung pertama di dunia. Di pusat kola ada benteng kuno VOC yang didirikan tahun 1666. Kota ini memang didirikan di tahun 1652 oleh Jan van Riebeeck, komandan armada laut Belanda. Di seberang teluk terdapat sebuah pulau, Robben Island, tempat Nelson Mandela dipenjara selama 28 tabun. Semenanjung, ini 60 juta tahun yang lalu adalah sebuah pulau terpisah dari Afrika.

Ada yang lebih menarik. Bila kita naik mobil ke arah timur lewat jalan raya utama menuju Port Elizabeth, setelah melewati bandara, kita akan sampai di Kota Kuilsrivier. Pada kilometer 38,5 kita akan sampai di kota Faure, yakni di persimpangan jalan menuju Kota Stellenbosch di utara. Di tepi jalan, akan terlihat sebuah papan nama bertuliskan: Makassar. Ini tidak salah, memang desa ini bernama Makassar. Di desa ini, terdapat sebuah jalan setapak mendaki bukit kecil yang berangin kencang. Di puncaknya, kita temukan bangunan kecil berkubah hijau yang menaungi makam yang sangat dihormati dan dianggap keramat oleh Muslim Afrika Selatan. Setiap calon jamaah haji di sana, baik yang awan maupun intelektual, tidak berani berangkat ke Mekah sebelum ziarah ke makam ini. Tujuannya untuk berterima kasih kepada orang yang sangat berjasa menyelamatkan Afrika Selatan dari kegelapan menuju Islam.


Orang yang dimaksud adalah Syekh Yusuf Tajul Khalwati, ulama pejuang pembawa Islam ke Afrika Selatan. Dia lahir di Gowa, Makassar, 16 juli 1626. Sejak kecil sudah mampu menamatkan Al Quran. Dia kemudian mendalami ilmu fikih, tafsir, hadis, dan tasawuf. Pada Usia l9 tahun, dia ikut kapal Portugis berlayar ke Mekah, melalui Banten, Aceh, dan Yaman. Di Aceh berguru pada Syekh Nuruddin ar-Raniri sampai memperolch ijazah Tarekat Qadiriah. Di Yaman, mendapatkan ijazah Tarekat Naqsyabandiyah dan Tarekat Ba'lawiyah dari Syekh Abdullah Muhammad Abdul Baqi' dan Sayid Ali Zubaidi. Setelah selesai menunaikan haji di Mekah, dia pergi ke Madinah. Di sana berguru kepada Syekh Burhanuddin al-Milah sampai mendapat ijazah Tarekat Syattariah. Tidak puas, dia memenuhi "rasa hausnya" ke negeri Syam. Di sanalah dia mendapat gelar Tajul Khalwati Hadiyatullah dari gurunya, Syekh Abul Barkah Ayyub. Sepulang ke tanah air, dia berdakwah di Sulawesi, lalu menetap di Banten.

Di Banten, dia menjadi guru, mufti, menantu, sekaligus panglima perang Sultan Ageng Tirtayasa melawan Belanda. Ketika Sultan ditangkap, dia bergerilya di hutan dan bertempur bersama kesultanan Cirebon sampai akhirnya tertawan dan dipenjara di Batavia. Pada 1684 dibuang ke Srilangka untuk melumpuh-kan perjuangannya. Tetapi para jamaah haji Indonesia yang waktu itu harus singgah di Srilangka, selama 9 tahun sclalu mengunjung¬inya dan mereka diberi fatwa-fatwa jihad Islam. Ini tentu mengkhawatirkan Belanda, sehingga pada tahun 1693 Syekh Yusuf dibuang sangat jauh, 10.000 km dari Makassar, ke Tanjung Harapan di Ujung Afrika Selatan. Tetapi ternyata semangat juangnya tak terpatahkan.

Di tempat pengasingan yang terpencil, 50 km dari pelabuhan, di usia 67 tahun dia masih terus memperjuangkan Islam. Kali ini melalui dakwah ilmu tarekat. Dengan cepat, ketinggian ilmu dan kharismanya tersebar di kalangan kuli perkebunan, orang-orang buangan, dan imigran. Lambat-laun Islam menyebar dan mengakar di Afrika Selatan, sehingga 400 tahun kemudian ketika Rezim Apartheid tumbang, kabinet Presiden Nelson Mandela diperkuat oleh beberapa menteri Muslim.

Selain dengan pedang, Syekh Yusuf juga berjuang dengan pena. Sampai meninggalnya di tahun 1699, dia telah menulis 20 kitab ber¬bahasa Arab, di antaranya yang terkenal adalah Safinat an-Naja', yang sampai sekarang dibaca di seluruh pesantren.

Rencana Allah memang unik. Islam mencapai Afrika Selatan bukan langsung dari Jazirah Arab, tetapi berputar dahulu jauh ke Makassar di Sulawesi. Dari sana, baru berbalik ke Makassar di Cape Town. Syekh Yusuf sungguh merupakan Muslim teladan yang tidak memisahkan antara zikir, wirid, dan perang. Tidak ada yang bisa menghalanginya untuk berjihad, baik dalam posisinya sebagai pelajar, guru, pejabat, birokrat, militer, maupun narapidana. Dia tidak memilih wilayah perjuangan, baik di tanah kelahiran, di rantau, atau di pembuangan. Dia tidak pernah berhenti belajar, berdakwah, dan berjihad dari buaian sampai liang lahat. Allahu Akbar.

(Sumber : Buku Percikan Sains Dalam Al Quran: Menggali Inspirasi Ilmiah oleh Bambang Pranggono, Dini Handayani – 2006, halaman 93-95)

0 komentar:

Posting Komentar